FENDY ADITIYA
“Dengan Dzikir, Pikir & Amal Sholeh,Ayo Kita Rubah Dunia …Arsip untuk Religi
RAHASIA BESAR DIBALIK IBADAH SHALAT
“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut [29]: 45)
Ayat di atas begitu eksplisit menjelaskan adanya keterkaitan antara shalat dan perilaku yang ditunjukkan oleh seorang muslim. Pengaruh shalat memang tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk menggeneralisasi dan menghukumi kepribadian semua orang. Tetapi, paling tidak dalam ayat ini Allah menjelaskan sikap seorang manusia dari sudut pandang karakter dan watak/ tabiat yang dibawanya. Shalat itu membersihkan jiwa, menyucikannya, mengkondisikan seorang hamba untuk munajat kepada Allah Swt di dunia dan taqarrub dengan-Nya di akhirat. (Jabir Al-Jazairi, 2004: 298).Shalat sebagai salah satu bagian penting ibadah dalam Islam sebagaimana bangunan ibadah yang lain juga memiliki banyak keistimewaan. Ia tidak hanya memiliki hikmah spesifik dalam setiap gerakan dan rukunnya, namun secara umum shalat juga memiliki pengaruh drastis terhadap perkembangan kepribadian seorang muslim. Tentu saja hal itu tidak serta merta dan langsung kita dapatkan dengan instan dalam pelaksanaan shalat. Manfaatnya tanpa terasa dan secara gradual akan masuk dalam diri muslim yang taat melaksanakannya.
Shalat merupakan media komunikasi antara sang Khlalik dan seorang hamba. Media komunikasi ini sekaligus sebagai media untuk senantiasa mengungkapkan rasa syukur atas segala nikmat. Selain itu, shalat bisa menjadi media untuk mengungkapkan apapun yang dirasakan seorang hamba. Dalam psikologi dikenal istilah katarsis, secara sederhana berarti mencurahkan segala apa yang terpendam dalam diri, positif maupun negatif. Maka, shalat bisa menjadi media katarsis yang akan membuat seseorang menjadi tentram hatinya.
Keterkaitan Shalat dan Akhlak
Shalat sebagai tiang agama, penyangga bangunan megah lagi perkasa. Ia sebagai cahaya terang keyakinan, obat pelipur ragam penyakit di dalam dada dan pengendali segala problem yang membelenggu langkah-langkah kehidupan manusia. Oleh karenanya, shalat dapat mencegah perilaku keji dan munkar, menjauhkan hawa nafsu yang condong pada kejelekan untuk mencampakkannya sejauh mungkin (Asykuri, tt:137)
Ibadah Shalat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam adalah bangunan megah indah yang memiliki sejuta ruang yang menampung semua inspirasi dan aspirasi serta ekspresi positif seseorang untuk berperilaku baik, karena perbuatan dan perkataan yang terkandung dalam shalat banyak mengandung hikmah, yang diantaranya menuntut kepada mushalli untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar.
Sayangnya shalat sering dipandang hanya dalam bentuk formal ritual, mulai dari takbir, ruku’, sujud, dan salam. Sebuah kombinasi gerakan fisik yang terkait dengan tatanan fikih, tanpa ada kemuan yang mendalam atau keinginan untuk memahami hakikat yang terkandung di dalam simbol-simbol shalat. Berikut ini adalah nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam proses menjalankan ibadah shalat.
Pertama, latihan kedisiplinan. Waktu pelaksanaan shalat sudah ditentukan sehingga kita tidak boleh seenaknya mengganti, memajukan ataupun mengundurkan waktu pelaksanaannya, yang akan mengakibatkan batalnya shalat kita. Hal ini melatih kita untuk berdisiplin dan sekaligus menghargai waktu. Dengan senantiasa menjaga keteraturan ibadah dengan sunguh-sungguh, manusia akan terlatih untuk berdisiplin terhadap waktu (Toto Tasmara, 2001: 81). Dari segi banyaknya aturan dalam shalat seperti syarat sahnya, tata cara pelaksanaannya maupun hal-hal yang dilarang ketika shalat, batasan-batasan ini juga melatih kedisiplinan manusia untuk taat pada peraturan, tidak “semau gue” ataupun menuruti keinginan pribadi semata.
Kedua, latihan kebersihan, sebelum shalat, seseorang disyaratkan untuk mensycikan dirinya terlebih dahulu, yaitu dengan berwudlu atau bertayammum. Hal ini mengandung pengertian bahwa shalat hanya boleh dikerjakan oleh orang yang suci dari segala bentuk najis dan kotoran sehingga kita diharapkan selalu berlaku bersih dan suci. Di sini, kebersihan yang dituntut bukanlah secara fisik semata, akan tetapi meliputi aspek non-fisik sehingga diharapkan orang yang terbiasa melakukan shalat akan bersih secara lahir maupun batin.
Ketiga, latihan konsentrasi. Shalat melibatkan aktivitas lisan, badan, dan pikiran secara bersamaan dalam rangka menghadap ilahi. Ketika lisan mengucapkan Allahu Akbar, secara serentak tangan diangkat ke atas sebagai lambang memuliakan dan membesarkan, dan bersamaan dengan itu pula di dalam pikiran diniatkan akan shalat. Pada saat itu, semua hubungan diputuskan dengan dunia luar sendiri. Semua hal dipandang tidak ada kecuali hanya dirinya dan Allah, yang sedang disembah. Pemusatan seperti ini, yang dikerjakan secara rutin sehari lima sekali, melatih kemampuan konsentrasi pada manusia. Konsentrasi, dalam bahasa Arab disebut dengan khusyu’, dituntut untuk dapat dilakukan oleh pelaku shalat. Kekhusyukan ini sering disamakan dengan proses meditasi. Meditasi yang sering dilakukan oleh manusia dipercaya dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi dan mengurangi kecemasan.
Keempat, latihan sugesti kebaikan. Bacaan-bacaan di dalam shalat adalah kata-kata baik yang banyak mengandung pujian sekaligus doa kepada Allah. Memuji Allah artinya mengakui kelemahan kita sebagai manusia, sehingga melatih kita untuk senantiasa menjadi orang yang rendah hati, dan tidak sombong. Berdoa, selain bermakna nilai kerendahan hati, sekaligus juga dapat menumbuhkan sikap optimis dalam kehidupan. Ditinjau dari teori hypnosis yang menjadi landasan dari salah satu teknik terapi kejiwaan, pengucapan kata-kata (bacaan shalat) merupakan suatu proses auto sugesti, yang membuat si pelaku selalu berusaha mewujudkan apa yang telah diucapkannya tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kelima, latihan kebersamaan. Dalam mengerjakan shalat sangat disarankan untuk melakukannya secara berjamaah (bersama orang lain). Dari sisi pahala, berdasarkan hadits nabi SAW jauh lebih besar bila dibandingkan dengan shalat sendiri-sendiri. Dari sisi psikologis, shalat berjamaah bisa memberikan aspek terapi yang sangat hebat manfaatnya, baik bersifat preventif maupun kuratif. Dengan shalat berjamaah, seseorang dapat menghindarkan diri dari gangguan kejiwaan seperti gejala keterasingan diri. Dengan shalat berjamaah, seseorang merasa adanya kebersamaan dalam hal nasib, kedudukan, rasa derita dan senang. Tidak ada lagi perbedaan antar individu berdasarkan pangkat, kedudukan, jabatan, dan lain-lain di dalam pelaksanaan shalat berjamaah.
Gambaran Kehidupan
Dalam gerakan shalat, kita bisa menemukan isyarat dari simbol-simbol yang terkandung dalam shalat, yaitu filsafat gerak. Seorang pribadi muslim harus bergerak, harus dinamis, karena tidak selamanya hidup ini akan qiyam (berdiri diam), perlambang kejayaan (dewasa). Suatu saat kita kita harus ruku’ (umur setengah baya), kemudian bersujud (umur pun mulai uzur). Sebaliknya, ada shalat tanpa gerak, dia berdiri kemudian salam. Itulah shalat mayit. Ini seakan memberikan isyarat bahwa pribadi yang statis, tidak ada kreativitas gerak, sesungguhnya sedang berada dalam kematian. (al-Muthawi’, 2001: 87). “Static condition means death,” kata Muhammad Iqbal.
Membudayakan Shalat Aktual
Sesungguhnya, shalat yang kita dirikan itu pada hakikatnya merupakan samudera mutiara yang mencerdaskan ruhani. Shalat menunjukkan sikap batiniyah untuk mendapatkan kekuatan, kepercayaan diri, serta keberanian untuk tegak berdiri menapaki kehidupan dunia nyata melalui perilaku yang jelas, terarah, dan memberikan pengaruh pada lingkungan. Bagi orang yang memahami makna sholat, sesungguhnya dia akan mengejar waktu amanat tersebut, karena dengan shalat, dia mempunyai kekuatan untuk hidup melaksanakan amanat Allah.
Sholat bukan hanya sekedar ritual formal, melainkan ada muatan aktual, yaitu bukti nyata yang dirasakan. Alangkah naifnya seseorang yang shalat, tetapi bibirnya penuh ucapan kebohongan. Alangkah tak berharganya makna shalat apabila tidak memberikan imbas untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan menjauhi yang mungkar. Bila kita memberikan santunan kepada orang miskin, memperhatikan masa depan anak yatim dan derajat kaum lemah, sesungguhnya kita telah melengkapi sholat kita dari bentuk yang formal menjadi aktual, dari sikap perihatin menjadi perilaku. Inilah yang dimaksudkan dengan sholat kaffah, . Muatan moral yang dipresentasikan oleh shalat membekas di kalbu dan membentuk kecerdasan rohani yang sangat tajam yang kemudian melahirkan amal saleh, mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar Allahu’alam.[NN]
Mengapa Shalat Kehilangan Kekuatannya
Ibarat Jam
Lihatlah jam yang dipasang di dinding: ada bagian-bagian kecil di dalamnya yang saling berkait. Jika kita memutarnya, seluruh jarumnya berputar, dan karena jarum-jarum itu bergerak akibatnya adalah seperti yang kita lihat. Satu jarum bergerak menunjuk kepada detik, satu lagi kepada menit. Tujuan jam adalah untuk menunjukkan waktu yang tepat. Seluruh jarum dipasang bersama-sama dan sistem putar sedemikian rupa dibuat sehingga masing-masing jarum itu bergerak sebagaimana seharusnya. Hanya ketika seluruh bagian dipasang secara benar dan kemudian jam tersebut diputar dengan tepat, maka jam itu akan memenuhi tujuan pembuatannya.
Jika kita tidak memutarnya, jam itu tidak akan menunjukkan waktu yang tepat. Jika kita memutarnya tetapi tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan, ia akan berhenti atau malah tidak bekerja, sehingga tidak menunjukkan waktu yang tepat. Jika kita menukar bagian-bagiannya kemudian memutarnya, tidak akan ada sesuatu yang diperoleh dari jam tersebut. Jika kita mengganti jarumnya dengan jarum mesin jahit dan kemudian memutarnya, jam itu tidak akan menunjuk waktu, tidak pula menjahit pakaian. Jika kita melepas bagian-bagiannya dan menyimpan dalam kotak, tidak akan ada yang bergerak meski kita memutarnya. Tidak bekerjanya bagian-bagian jam sesuai tujuan dibuatnya adalah karena kita mengacaukan susunannya dari yang seharusnya.
Dalam situasi semacam ini, keberadaan jam dan tindakan memutar jam menjadi tidak ada gunanya, meski orang yang melihatnya dari jauh tidak bisa mengatakan bahwa itu bukan jam atau bahwa kita tidak memutarnya. Dia tetap akan menganggap bahwa itu adalah jam dan mengharapkannya berfungsi sebagai jam. Begitu juga, kalau dari jauh orang melihat kita memutarnya.
Tujuan Umat Islam
Bayangkanlah, Islam seperti halnya jam ini. Karena tujuan jam adalah untuk menunjukkkan waktu yang tepat, tujuan Islam adalah bahwa kita harus hidup di dunia ini sebagai wakil Tuhan, sebagai saksi Tuhan bagi manusia dan sebagai standar pembawa kebenaran. Kita harus mengikuti perintah-perintah Tuhan dan membawa seluruh manusia berada di bawah-Nya.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan berima kepada Allah. ( QS. Ali Imran : 110 ) “
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat Islam, umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia (QS : Al-Baqarah : 143 )
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholeh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di atas bumi. (QS : An-Nur : 55)
Keseluruhan Ajaran Islam.
Untuk mencapai tujuan ini, beragam bagian sebagaimana yang telah disebutkan, seperti bagian dari jam, dibawa bersama-sama dalam Islam. Kepercayaan dan prinsip-prinsip moralitas, peraturan tingkah laku sehari-hari, hak-hak Tuhan, hak-hak hamba, hak-hak diri seseorang, hak segala sesuatu yang ada di dunia yang kita jumpai, peraturan memperoleh dan memanfaatkan uang, hukum perang dan perdamaian, prinsip-prinsip pemerintahan dan batas-batas kebolehan mentaatinya, semua ini merupakan bagian-bagian Islam. Sebagaimana jam, semua bagian-bagain dalam Islam ini dihubungkan satu sama lain dengan cara seperti ini pula, sehingga begitu diputar semua bagiannya akan bergerak dan bersamaan dengan bergeraknya semua bagian-bagian ini, hasil yang diinginkan tercapai. Berperannya hukum Tuhan di dunia, dominasi Islam, mulai terwujud apabila zaman bergerak seperti halnya dengan gerakan bagian-bagian jam yang ada di depan kita.
Guna mempercepat bagian-bagian yang berbeda secara bersamaan, digunakan sekrup dan seperangkat logam-logam kecil. Begitu juga, untuk membuat bekerjasamanya bagian-bagian Islam, ada rancangan yang disebut jamaah atau organisasi. Orang-orang Islam harus mengorganisasikan diri mereka, dan memiliki pemimpin-pemimpin yang melengkapi satu pengetahuan serta ketakwaan. Otaknya harus membimbingnya dan anggota badannya harus mematuhinya, sebagaimana semuanya berjuang untuk hidup di bawah komando Tuhan.
Jika seluruh bagian ini telah dipasang dengan tepat, selanjutnya diperlukan pemutar untuk menggerakkan bagian tersebut. Shalat yang dilakukan 5 kali sehari menjadi pemutar, menciptakan energi yang menentukan geraknya kehidupan Islam. Diperlukan juga upaya membersihkan jam tersebut, puasa yang dilaksanakan 30 hari setiap tahun membersihkan hari dan moral. Memberi minyak juga harus dilakukan, zakat adalah seperti minyak yang diletakkan pada setiap bagian-bagiannya sekali setahun. PErlu juga untuk memeriksanya secara periodeik, haji adalah pemeriksaan yang seharusnya dilakukan paling tidak sekali selama hidup, lebih dari sekali tentu saja lebih baik.
Menyalahgunakan Jam
Proses memutar, membersihkan, memberi minyak dan memeriksa hanya digunakan jika seluruh bagian-bagian itu menjadi kerangka; jika semua bagian itu saling dihubungkan dalam desain si pembuat jam; dan jika semua bagian itu dalam keadaan baik. Sehingga begitu diputar segera bergerak dan memperlihatkan kerjanya.
Sayang, saat ini situasinya berbeda, baru mulai banyak jamaah, struktur organisasional yang diharapkan menghubungkan seluruh bagian jam itu secara bersama-sama telah mati atau berhenti. Akibatnya seluruh bagian itu tercerai-berai, masing-masing kehilangan cara jalannya sendiri. Setiap orang mengkhayal. Tidak ada seorangpun yang mempersoalkan berbagai hal. Setiap orang otonom. Jika seseorang ingin mengikuti aturan Islam, ia bisa; jika seseorang tidak menginginkannya, ia juga bisa.
Bahkan, jika apa yang disebut kebebasan ini belum memuaskan kita, kita mencabuti bagian-bagian tersebut dan kita ganti dengan bgaian-bagian mesin lain, onderdil dari mesin jahit atau dari pabrik atau dari mobil. Kita merasa sebagai muslim namun mengabdikan loyalitas kepada kekafiran, memungut bunga, mengasuransikan hidup, mengajukan gugatan hukum yang salah, anak-anak perempuan kita, saudara-saudara perempuan kita dan istri-istri kita mengabaikan ajaran Islam dan anak-anak kita diberikan pendidikan yang materialistik dan sekuler. Banyak di antara kita menjadi pengikut Gandhi, yang lain mengikuti Lenin. Dan perangkat tidak Islami yang mana lagi, sehingga kita tidak tergolong dalam kerangka jam Islam ?
Meski demikian, kita mengharapkan jam itu bekerja dengan baik ketika kita memutarnya. Dan kita berharap bahwa membersihkan, meminyaki dan memeriksanya akan membuatnya berfungsi. Bagaimanapun, dengan sedikit refleksi kita akan melihat saat-saat yang tepat kapan kita harus merawat jam itu,kita bisa memutarnya, meminyakinya dan memeriksanya sepanjang hidup kita tanpa ada pengaruhnya sama sekali. Tidak akan ada yang terjadi sampai kita menggantikannya dengan baigan-bagian yang orisinal dan mengembalikan prioritas orisinilnya. Maka, pemutaran itu akan menghasilkan fungsi yang semestinya.
Mengapa shalat tidak berguna ?
Persoalannya, mengapa ibadah shalat, puasa, zakat dan haji tidak berpengaruh terhadap kehidupan kita. Hal itu disebabkan oleh : pertama, sedikit sekali dari kita yang menunjukkan perilaku sembahyang; kedua, terputusnya jalinan jamaah Islam. Setiap orang menjadi otonom. Apakah kita memenuhi kewajiban atau tidak, tidak ada yang peduli. Kita tidak konstan dalam melaksanakan shalat jamaah. Seseorang dipilih menjadi imam shalat belum terseleksi secara ketat,namun karena tidak cakap dalam pekerjaan lain, orang yang memperoleh bebas makan dari yang didermakan di masjid-masjid adalah orang yang tidak terpelajar, orang yang kehilangan kepekaan moral. Bagaimana mungkin sebuah jamaah dipimpin oleh orang-orang seperti itu bisa membimbing kita menjadi pemimpin umat manusia ? Sama halnya dengan puasa, zakat dan haji kita.
Meski kenyataannya seperti itu, kita beralasan: banyak kaum muslimin melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka secara sadar, kenapa hal itu tidak menciptakan perubahan ? Tetapi, seperti telah saya katakan, ketika bagian-bagian dari jam dilepaskan dan onderdil-onderdil lain dipasang untuk menggantikannya. apakah kita memutarnya atau tidak, membersihkannnya atau tidak dari kejauhan yang tampak bukanlah seperti jam. Boleh jadi orang yang melihat akan mengatakanL Inilah Islam dan kita adalah orang-orang muslim. Hanya yang tidak bisa dilihatnya adalah betapa buruknya perlengkapan mesin itu.
Kondisi Kita yang Menyedihkan
Kita memahami mengapa meskipun kita melakukan shalat dan puasa namun tetap berada di bawah injakan kaki tiran yang kejam. Tapi, haruskah saya mengatakan sesuatu yang bahkan lebih menyusahkan? Meski kita benar-benar menyesali keadaan ini, saya katakan bahwa 999 dari 1000 muslim yang tidak memiliki kesiapan untuk mengubah situasi yang mereka alami. Mereka tidak memiliki niat untuk memasang jam Islam sebagaimana mestinya. MEreka taku bahwa rekonstruksi apa pun akan berarti bahwa peran-peran penting yang disenangi harus mereka lepaskan, dan mereka tidak siap untuk menerima hal tersebut. Mereka takut bahwa mengalihkan bagian-bagian manapun berarti mereka harus disiplin terhadap diri mereka sendiri dan mereka tidak menginginkan hal itu.
Alih-alih, mereka lebih suka jam itu sekedar menjadi dekorasi dinding untuk memperlihatkan betapa indahnya Islam dan betapa ajaibnya apa yang ditunjukkannya. Mereka yang diharapkan lebih mencintai jam ini lebih dari pada orang lain akan memutarnya berulang-ulang dengan penuh semangat, dan membersihkannya dengan susah payah. Tetapi mereka tidak ingin membersihkan bagian yang berhubungan dengannya.
Saya ingin dapat mendukung sikap-sikap dan perilaku anda. Tetapi saya tidak bisa mengatakan apapun yang saya anggap salah. Saya percaya anda bahwa, selain shalat wajib lima kali sehari, seandainya anda melaukan shalat tahajud, isak, subuh, membaca Al-Quran beberapa jam setiap harinya, melaksanakan puasa selama lima setengah bulan dalam sebelas bulan selain bulan Ramadhan, tidak akan ada yang bisa dicapai. Yang dibutuhkan adalah memasang onderdil-onderdil jam yang asli dan merawatnya dengan benar. Jika demikian, sedikit saja diputar, jam itu akan bekerja sebagaimana mestinya dan hanya perlu sedirkit pembersihan dan perbaikan. [Dikutip dari Buku Menjadi Muslim Sejati , tulisan Abul A’la Al-Maududi]
“Tidak ada kewajiban bagi kami kecuali sekedar menyampaikan” .
Konfirmasi Sholat 2 Bahasa
Maksudnya agar bisa mengerti artinya.
Untuk mengerti bacaan sholat, tidak perlu kita sholat
dengan bahasa Indonesia. Apalagi ternyata terjemahan
yang dipakai oleh orang yang baru masuk Islam itu
ternyata salah (berita dari Republika).
Sebaiknya kita membaca bacaan sholat, kemudian baca
terjemahannya ketika tidak sedang sholat. Total waktu
sholat tidak lebih dari setengah jam. Kita punya waktu
16 jam untuk menghafal bacaan sholat, tanpa perlu
melakukan sholat dua bahasa yang tidak pernah
dicontohkan oleh rasul dan para sahabat, alias bid’ah.
Ada pun agar mengerti isi ayat-ayat Al Qur’an, kita
bisa membaca dulu terjemahannya, kemudian baru baca
ayat Al Qur’annya. Insya Allah dengan cara itu
perbendaharaan kata Arab kita akan bertambah.
Nabi berkata, “Sholatlah kamu sebagaimana aku sholat”.
Ini artinya dalam sholat, kita membaca ayat-ayat Al
Qur’an yang memang diturunkan dalam bahasa Arab, serta
doa dan dzikir yang diajarkan Nabi. Jangankan memakai
bahasa bukan Arab seperti bahasa Indonesia, Jawa,
Sunda, dan lain sebagainya, memakai bahasa Arab saja,
jika huruf dan kata-katanya berbeda dengan ayat-ayat
Al Qur’an, niscaya tidak akan diterima.
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat
Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari)
“Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika shalat
dzuhur membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat
pada dua rakaat pertama, dan beliau membaca Ummul
Kitab saja pada dua rakaat berikutnya dan terkadang
beliau perdengar-kan ayat (yang dibacanya) kepada para
sahabat.” (Muttafaq ‘alaih)
“Bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wasallam shalat,
kemudian beliau membaca suatu ayat, lalu beliau salah
dalam membaca ayat tersebut. Setelah selesai shalat
beliau bersabda kepada Ubay, ‘Apakah kamu shalat
bersama kami?’, ia menjawab, ‘Ya’, kemudian beliau
bersabda, ‘Apakah yang menghalangi-mu untuk
membetulkan bacaanku’.” (HR. Abu Daud, Al-Hakim dan
Ibnu Hibban, shahih)
Dari hadits di atas, meski dalam bahasa Arab, tapi
jika ada kata/kalimat yang berbeda, harus dibetulkan.
Apalagi jika kata-katanya berbeda sama sekali.
“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu
sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan
seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah
datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak
ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa)
Allah.” [Ar Ra'd:37]
“(Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada
kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” [Az
Zumar:28]
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa
Arab supaya kamu memahami(nya).” [Az Zukhruf:43]
Pada zaman Nabi Muhammad, sebagian sahabat bukan
berasal dari Arab. Contohnya, Abdullah bin Salam orang
Yahudi, Suhaib berasal dari Romawi, Salman Al Farisi
berasal dari Iran, toh mereka (mau pun sahabat lainnya
dan generasi sesudahnya) semua sholat dengan ayat-ayat
Al Qur’an serta bacaan yang telah diajarkan Nabi.
Tidak sholat dalam bahasa masing-masing.
Sesungguhnya, bahasa ibu di Indonesia begitu banyak.
Ada bahasa Sunda, Batak, Jawa, Padang, Ambon, Papua,
Dayak, dan lain sebagainya. Tapi dengan banyaknya
bahasa, orang Sunda tidak mungkin berkomunikasi dengan
orang Batak, Ambon, dan Papua. Akhirnya, dipakailah
bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Begitu juga
dalam Islam. Agar semua muslim dari berbagai suku dan
bangsa bisa berkomunikasi dan bersatu, maka dipakai
bahasa Arab sebagai bahasa persatuan.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al
Maa-idah:3]
Agama Islam telah disempurnakan oleh Allah SWT pada
saat ayat tersebut diturunkan. Jika ada orang yang
merubah-rubah atau menambah-nambah ajaran agama Islam,
apalagi ibadah sholat yang merupakan ibadah mahdloh
yang sudah ada aturannya, maka orang tersebut tidak
lebih dari ahli bid’ah yang melanggar surat Al
Maa-idah ayat 3.
Jika setiap orang sholat dengan bahasa ibunya
masing-masing, maka orang Sunda tidak bisa makmum
dengan orang Batak karena tidak mengerti, demikian
pula yang lainnya.
Oleh karena itulah, para ulama dari NU, Muhammadiyyah,
Persis, Hidayatullah, dan lain-lain yang tergabung
dalam MUI berfatwa bahwa sholat dengan 2 bahasa adalah
sesat. Selain bid’ah, juga akan memberatkan
orang-orang yang sholat karena jadi 2 kali lebih lama.
Karenanya, tindakan seorang mualaf yang baru masuk
Islam pada tahun 1997 (sebelumnya beragama nasrani),
kemudian satu tahun kemudian sudah mendirikan
pesantren dan mengajarkan sholat dua bahasa patut
disayangkan. [Hamba Alloh]





