FENDY ADITIYA

“Dengan Dzikir, Pikir & Amal Sholeh,Ayo Kita Rubah Dunia …

Arsip untuk Dunia Malam

Remang-Remang Medan, Bung!

Dari Melayu hingga Panda Lokal


Geliat kehidupan malam kota Medan yang ditandai dengan munculnya pusat hiburan malam seakan tak mau kalah dibanding kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, juga Batam.

Indikasinya semakin kuat terasa dengan munculnya pusat hiburan malam beraroma hedonis. Jenisnya pun beraneka ragam, mulai dari salon, panti pijat, cafe, karaoke, club/bar, hotel, hingga diskotek. Segmentasi pasarnya pun beragam.

Sebagai kota terbesar keempat di Indonesia, Medan memiliki peran strategis. Secara geografis, di sebelah Barat, Timur dan Selatan, kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang yang dikenal kaya dengan sumber daya alamnya. Di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka, salah satu jalur lintas laut paling sibuk (padat) di dunia. Kota Medan juga didukung daerah yang kaya sumber alam lainnya seperti Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai dan lain-lain.

Kondisi ini menjadikan Kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling menguntungkan dan saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya. Di samping itu sebagai daerah yang berada pada pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Medan memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis ini mendorong perkembangan kota dalam 2 (dua) kutub pertumbuhan secara fisik, yaitu Belawan dengan pelabuhannya dan pusat Kota Medan itu sendiri.

Pertumbuhan kota yang berpenduduk kurang-lebih 2.006.142 jiwa ini (Data BPS 2004 -Red) ternyata diikuti dengan berkembangnya tempat hiburan malam. Tak heran bila kemudian kota yang memiliki luas 26.510 hektar atau 265,10 km² ini dikenal sebagai salah satu barometer hiburan malam untuk wilayah Sumatra –setelah Batam tentunya. Menurut Drs Wara Sinuhaji, MHum, pengamat sosial dari USU Medan, hiburan malam muncul di Medan seiring dengan redupnya pamor bioskop.

Sementara itu, bumbu nafsu birahi yang belakangan menyertai gemerlapnya hiburan malam tak lepas dari sikap masyarakat yang makin hedonis. Sikap ini muncul lantaran tak sanggup membentengi diri dari gaya hidup kapitalis. Akhirnya, berbagai cara dilakukan guna mendapatkan produk-produk kapitalis tersebut. Sayangnya, cara yang dianggap paling gampang, khususnya bagi kalangan wanita, adalah menjajakan diri. Mulai dari yang terang-terangan hingga yang terselubung.

Kota Medan berada pada 3º 30′ – 3º 43′ lintang utara dan 98º 35′ – 98º 44′ bujur timur. Topografinya cenderung miring ke Utara dan berada pada ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut. Suhu minimum pada malam atau dini hari berkisar antara 22,7º C – 24,1º C, sedangkan suhu maksimum berkisar antara 31,0º C – 33,7º C (www.pemkomedan.go.id). Tak berlebihan bila aktifitas hiburan malam terus menggeliat di kota yang terdiri dari 21 kecamatan ini.

HOTEL. Aktifitas kehidupan malam di Medan, seperti dituturkan Wara Sinuhaji, tak lepas dari aroma hedonisme. Mungkin kita setuju bila aktifitas berburu syahwat disebut sebagai salah satu bentuk produk kultural manusia yang paling tua. Dari waktu ke waktu selalu saja ada kreasi yang dilakukan, mulai dari yang terang-terangan hingga yang terselubung atau pun dibungkus lewat aktifitas hiburan malam.

LEGAL. Keberadaan ABG juga menjadi daya tarik pemburu nafsu hedonis untuk menyambangi Warkop ASA atau Warkop PB. Warkop, singkatan dari warung kopi, adalah julukan yang diberikan masyarakat Medan untuk cafe tenda. Diberi nama ASA karena berada persis di sekitar sebuah kampus (swasta). Juga sering disebuat PB karena memang berdekatan dengan Jl PB yang merupakan jalan protokol. Dari tempat ini, akses ke bandara Polonia bisa dicapai hanya dengan waktu tempuh 5 menit saja.

PANDA LOKAL. Remang-remang Medan seolah tak lengkap tanpa kehadiran layanan seks kilat yang tak berhubungan dengan hiburan. Salon NC adalah salah satu contoh. Salon plus-plus ini menawarkan aroma hedonis bagi tamu yang berminat. Meski hanya sebagai salon, di sini tersedia paket lulur dan mandi susu. Tentu saja untuk kalangan pria.

DOMESTIK. Pelabuhan Belawan sebagai pintu gerbang kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor) memberi peran yang besar bagi pertumbuhan Medan.[NN]

Mengintip Praktik PSK di Jembrana

Berawal dari Kafe, Selanjutnya Terserah…

Berbicara masalah pekerja seks komersial (PSK), nampaknya tak akan pernah tuntas. Upaya untuk memberantasnya pun sungguh sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Kehadirannya tak bisa dibendung dengan cara apa pun. Bisa jadi, masalah seks dan berbagai masalahnya sama dengan usia peradaban manusia, sehingga tak mungkin bisa ditiadakan. Di Jembrana sendiri, keberadaan PSK juga cukup marak. Berbagai kebijakan yang diterapkan untuk meminimalisasi praktik PSK sudah dicoba. Sayang, hasilnya belum juga memuaskan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Di mana saja mereka (PSK) melakukan praktik? Siapa saja pelanggannya?

Jembrana, sebagai kabupaten yang berada di ujung barat Pulau Bali, dapat pengaruh siginifikan dari wilayah tetangganya, Banyuwangi, Jatim. Jarak yang demikian dekat, memungkinkan kedua penduduk saling berinteraksi secara terus-menerus dan berkesinambungan. Kondisi ini, tentu saja berdampak positif bagi perkembangan Jembrana, dilihat dari akulturasi budaya. Dampak dari interaksi dua budaya bisa negatif juga bisa positif.

Bisnis esek-esek di Jembrana ini diyakini karena akibat dari interaksi dua budaya itu. Namun, bukan berarti PSK itu tidak ada di Bali. Dari beberapa kali digelar razia terhadap PSK, kebanyakan pelakunya adalah orang ‘’seberang”. Tetapi hal ini bukan menunjukkan bahwa orang lokal (Jembrana) sendiri tidak ada yang menekuni pekerjaan sebagai PSK. Budaya yang berbeda tentu caranya menarik laki-laki hidung belang juga berbeda. Misalnya, orang lokal berpraktik jauh dari sanak-keluarganya.

Bagaimana dengan Gilimanuk yang bersentuhan langsung dengan Ketapang, Banyuwangi. Gilimanuk, sebagai pintu masuk Bali dan juga kawasan pelabuhan nampaknya memberi peluang yang lebih besar terhadap keberadaan PSK. Buktinya, tidak sedikit tempat di Kelurahan Gilimanuk menyediakan wanita-wanita PSK. Mulai dari warung remang-remang hingga hotel melati (losmen) banyak yang menyediakan layanan khusus ini. Setelah bertemu di warung-warung kopi dan kafe, selanjutnya terserah kepada ”pemakainya”.

Tarif mereka pun bervariasi. Setiap orang yang ingin mencoba layanan PSK dengan mudah mendapatkannya. Karena keberadaan PSK di kawasan Gilimanuk tidak berada di satu tempat. Mereka beroperasi menyebar di beberapa gang atau warung-warung kopi di sana.

Seperti yang terlihat di salah satu gang di kelurahan itu. Dari depan keberadaan warung itu sedikit pun tidak menampakkan ada PSK yang berpraktik jual beli ”daging mentah”. Namun setelah memasuki lebih dekat lagi, kondisi warung tersebut terasa cukup berbeda bila dibanding dengan warung biasanya. Sebab, di belakang ruang yang digunakan untuk memajang minuman dan sedikit makanan, terdapat beberapa kamar kecil yang bisa disewa. Jumlah kamarnya pun bervariasi. Mulai dari lima kamar sampai ada yang menyediakan sepuluh kamar. Di warung dekat gang kecil itu, jumlah kamarnya terdapat delapan. Kondisi kamar terlihat sedikit kumuh. Kamar-kamar itulah yang senantiasa menjadi saksi bisu, bahwa keberadaan PSK di Jembrana tidak terbantahkan.

Harga seorang PSK di tempat seperti itu berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000, plus harga kamar Rp 10.000 untuk short time. Transaksi antara konsumen (lelaki) dan PSK bukan saja terjadi di tempat-tempat seperti itu. Hotel-hotel melati yang tersebar di Gilimanuk juga siap dengan layanan tambahan ini.

Ada Layanan Ekstra

Di sebuah hotel melati, dekat pelabuhan misalnya, setiap pengunjung akan ditawari layanan ekstra ini. Keberadaan PSK yang disediakan juga cukup bervariasi. Mulai dari yang berwajah lembut dengan usia yang masih muda, sampai PSK yang sudah tua atau yang sering disebut estewe. Bahkan untuk layanan, estewe, biasanya mampu memberi lebih. ”Kalau yang estewe disuruh apa saja mau, termasuk ‘karaoke’. Berbeda dengan yang muda-muda, maunya yang enak-enak saja,” ujar pemilik hotel itu berpromosi.

Hotel itu mematok harga yang lumayan murah untuk satu kamar hanya Rp 20.000 untuk short time dan Rp 50.000 bila mau full time. Sementara tarif PSK yang estewe hanya Rp 20.000. Bagi PSK yang lebih muda harganya sedikit lebih tinggi, yakni Rp 30.000 untuk short time dan Rp 75.000 bagi yang ingin bersama satu malam penuh. Bila ingin fasilitas kamar yang sedikit lebih baik, misalnya ada AC dan pesawat TV, maka sewa kamar ditambah lagi Rp 5.000.

Suasana lain dapat dirasakan salah satu pantai yang ada di Kecamatan Mendoyo. Keberadaan PSK di sana cukup tersembunyi. Pasalnya, tempat itu bukan semata sebagai tempat mangkalnya para panjaja cinta sesaat saja. Namun di balik usaha kafe, praktik PSK juga terjadi. Meski tidak semua kafe menyediakan fasilitas itu. Di lokasi ini keberadaan PSK tidak terlalu kentara sebagaimana yang ada di Gilimanuk.

Berdasarkan pantauan Bali Post, salah satu kafe yang beroperasi di sana ada yang menyediakan wanita-wanita cantik dan muda untuk di-booking. Sambil menikmati minuman ringan atau beberapa botol bir, transaksi dapat berlangsung di tempat itu. Tidak menutup kemungkinan wanita yang menemani kita minum juga bisa ”dipakai”, asal negosiasi harga dirasakan cocok.

Selain pelanggan bisa langsung ngejos, ada juga kafe menyediakan cewek cantik sekadar ngobrol. Saat minum dan mendengar musik paling tidak pelanggan ditemani dua orang wanita cantik. Mereka tidak memasang tarif secara kaku. Bisa saja harga yang ditawarkan cukup tinggi untuk ukuran PSK di Jembrana. Namun, yang standar untuk short time mereka hanya memasang Rp 100.000, ditambah lagi dengan sewa kamar Rp 25.000. Biasanya layanan yang ditawarkan mereka lebih banyak yang short time.

Gambaran suram kondisi tersebut, menunjukkan betapa maraknya praktik PSK di Bumi Makepung ini. Parahnya, praktik PSK yang terjadi di Jembrana bukan saja dilakukan PSK. Para pelajar pun tidak ketinggalan ikut secara sembunyi-sembunyi melakoni pekerjaan ini. Hanya, keberadaan pelajar yang berprofesi ganda ini tidak terlalu banyak. Cara memperolehnya pun tidak segampang PSK sungguhan.

Investigasi Bali Post selama tiga minggu lebih, akhirnya berhasil mengungkap dan membuktikan bahwa anak sekolah ada yang berprofesi ganda. Pagi ke sekolah, sepulang sekolah terkadang siap melayani konsumennya. Tentu saja, tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Sebab, untuk bisa kencan dengan ”ayam putih abu-abu” ini cukup sulit dan ada perantaranya. ”Jangan harap bisa mem-booking tanpa melalui perantara,” tandas salah seorang perantara kepada Bali Post.

Kadek, sebut saja demikian, salah seorang perantara ini mengakui di sekolahnya beberapa orang siswa ditengarai bisa untuk ”dipakai”. Hanya, setahu dia, baru satu orang yang sudah pasti menekuni profesi ganda tersebut. ”Saya dengar sih banyak yang bisa diajak kencan, namun kalau yang sudah pasti, ya… cewek itu saja,” ujarnya sambil menyebut salah satu nama rekannya yang satu sekolah. Ia menambahkan, soal tarif bisa sampai Rp 300.000/sekali kencan.

Pola praktik yang diterapkan oleh sejumlah PSK di Jembrana cukup menarik. Agar konsumen merasakan yang berbeda, biasanya pengelola sering me-rolling para piaraannya dari satu tempat ke tempat lain. Kondisi ini dinilai cukup berhasil mengelabui pelanggan, sehingga terkesan selalu ada yang baru. Padahal, yang baru itu hanya tempat praktiknya, sedangkan orangnya sudah ”apkiran”. Ironis memang. [NN]

Mengintip Geliat Kehidupan Warung “Remang-Remang”

Mengintip Geliat Kehidupan Warung “Remang-Remang”
Teman Minum Hingga Seks Semalam

Menggeluti kehidupan malam pasti bukan menjadi tujuan semua kaum hawa. Tapi, jika pilihan terbatas, dunia hitam pun dilakoni. Begitulah, kisah pilu perempuan pekerja warung kopi “pangku kelas bawah”. Bila malam menjelang, mereka bermunculan layaknya kelelawar, baik sebagai sekedar teman minum hingga berlanjut ke kamar tidur.

Tidak ada yang tahu pasti, sejak kapan warung remang-remang di sudut Kota Pontianak dengan Kabupaten termuda ini muncul. Warga hanya mengetahui, kawasan tersebut sebagai tempat nongkrong mengasyikkan. Dari hanya sekedar tempat minum kopi panas sampai minuman bergaya ala Texas USA dapat dicicipi. Yang paling mengasyikkan, justru kehadiran perempuan peneman minumnya sebagai teman ngobrol setia menunggu.

Ada perempuan yang hanya memang berprofesi sekedar pelayan ngobrol, adapula terselubung sebagai pengeksploitasi seks. Dan warga pun mahfum keberadaannya, baik yang masih muda belia, maupun perempuan setengah baya. Mereka hadir tidak hanya sekedar menemani lelaki iseng minum hingga ke permainan cinta sekejap oke dijalani.
Geliat kehidupan malam seperti ini dilihat secara sekilas memang tak layak. Akan tetapi justru menjadi buruan pria iseng. Lantaran haus akan pemuasan hasrat seksual, dilayani kencan sekejap pun bisa menjadi surga dunianya pria. Umumnya laki-laki kesepian yang datang ke tempat ini bisa memilih sendiri perempuan yang diajak berkencan.
Usai melakukan transaksi, tanpa basa basi, mereka langsung enjoy sambil mencari tempat menikmati indahnya ‘surga’.
Sebelum pekerjaan dilakukan, biasanya proses transaksi awal terjadi. Di dalam kamar ataupun dibawa keluar, semuanya bisa diatur. Asal fulus ada, apapun bisa dilakukan. Untuk harga yang dipatok bagi sebuah permainan seks relatif sedang. Mulai 50 ribu hingga 300 ribu rupiah dijalani. Kadang bila merasa cocok dengan pelanggan, mereka rela tak menuntut bayaran.
Para perempuan malam ini pula sebetulnya punya segudang alasan kenapa sampai terjun ke dunia malam. Alasan klasik tekanan ekonomi berkepanjangan, paling kentara. Menjadi seorang pekerja seks komersial di kelas bawah memang tak mudah dijalani. Selain dihargai murah, harus memuaskan nafsu pria hidung belang hingga keblinger adalah resiko yang dilakukan. Bahkan, ancaman berbagai penyakit mengerikan, mau tidak mau harus ditepis jauh-jauh.
Melacurkan diri memang gambaran getirnya sebuah kehidupan. Sedangkan pilihan kehidupan lainnya dianggap kurang memenuhi sebuah kebutuhan hidup pada zaman edan dengan sembako tak pernah turun ini. Padahal, melakoni dunia hitam, kenyataannya tak pula bergelimang harta. Sebut saja namanya Lili yang jadi bahan cerita dengan dua momongan saat bersedia jadi bahan investigasi cerita ini.
Perempuan paruh baya berusia 30 tahun ini terjun ke dunia hitam karena suaminya meninggal dunia beberapa tahun silam. Masalah ekonomi, membuatnya harus rela melacur demi menyekolahkan anaknya. Niatan untuk meninggalkan profesi pemuas syahwat, hingga kini belum terpikirkan. Bagi Lili, dengan bekerja sebagai pekerja malam, ia mudah mendapatkan uang jutaan rupiah setiap bulan.
Seperti kebanyakan pekerja malam lain, tawaran menjadi pekerja seks berasal dari seorang temannya. Meski awalnya menolak, Lili akhirnya ikhlas menceburkan diri dalam dunia kelam. Keluarga maupun anaknya sama sekali tak mengetahui jenis pekerjaan yang ditekuninya. Untuk mengaburkannya, bersama beberapa teman, dia mengakui kepada pihak keluarga bekerja sebagai pelayan ataupun di salon kecantikan.
Meski sering terbersit kekhawatiran atas penularan penyakit berbahaya, Lili dan perempuan malam lain, tetap menjalani kehidupan malamnya dengan menggelayut mesra kepada pria-pria “pemetik”. Meski nurani kadang memberontak karena kerap dianggap sumber masalah, justru para konsumennya bertambah. Walau tak jarang, mereka terancam oleh razia-razia yang sering diadakan oleh aparat keamanan.
Namun, keberadaan perempuan malam tak mungkin punah, apabila realitanya, penikmat seks bebas memburu dengan imbalan rupiah. Sering waktu bergulir, bahkan tak menyurutkan jumlah “perempuan” menangguk rupiah dari kehidupan malam ini. Justru, perempuan malam kian tersamarkan akan keberadaan warung remang-remang. Terlebih, makin banyak pula lelaki iseng yang terhibur akan kehadiran “tarian tubuh penghangat” mereka.
Bisnis seks terselubung seperti ini justru menjamur. Para hidung belang juga dapat terpuaskan. Perempuan belia ataupun ABG yang menjadi teman minum atau bahkan diajak lebih jauh buat menyalurkan hasrat adalah objeknya. Sekilas, para ABG penjaja minuman ringan dengan suplemen kepada lelaki yang melintas kerap disebut gadis peneman minum. Namun, ada yang menyebut mereka, gadis penjaja cinta. Terlebih, minuman yang ditawarkan, harganya melambung hingga mencapai dua sampai empat kali lipat.
Cerita dan obrolan miring akan gadis peneman minum terus berkembang, meski banyak disangkal para pelakunya. Dalih lain datang dari bos yang merekrut ABG ini. Para ABG dianggap karyawan yang setiap bulan mendapat gaji sebesar Rp 1 – 3 juta, tergantung dari keberhasilan pencapaian target penjualan minuman. Gadis ABG, lebih elit dibanding perempuan setengah baya. ABG kebanyakan mau berkencan, bila diajak ke hotel dengan tarif di atas Rp 100 ribu. Biasanya, itu dilakukan bila tamu sudah menjadi pelanggan tetap, atau mengeluarkan uang dalam jumlah banyak.
Keberadaan pekerja seks komersial, di sisi lain mengundang cemoohan ataupun protes. Mereka dicap sebagai perusak moral. Sehingga, upaya memberantasnya, terus dilakukan aparat, meski tak semuanya bisa terjaring. Kesulitan dari memberantas keberadaan perempuan malam, tak lain karena banyak pria iseng yang justru menikmati keberadaannya. Selain itu, oknum pun diduga bermain. Banyak oknum yang justru mengutip uang bulanan dari para perempuan malam. Betapa ironis, ternyata, lebih sulit membasmi yang tampaknya baik, tetapi justru tak bermoral.

Birokrasi warung remang-remang

Sudah rahasia umum, warung remang-remang (warem) yang bertebaran di pinggir jalan, khususnya di pantai utara (pantura) dianggap tempat mesum. Pemiliknya seakan tahu, waremnya tidak akan laku jika tidak diisi wanita centil dan menor sebagai pelayannya.
Wanita-wanita pelayan warem ini memangtrengginas“. Tidak hanya piawai menyuguhkan kopi atau nasi kepada tamu yang berkunjung, tetapi juga siap menyervis luar dalam. Tak usah pergi ke hotel, cukup menyelinap ke belakang warem, di sana sudah ada kamar, begitu cenah kata pelanggan warem.
Di pantura tea banyak hilir mudik kendaraan, khususnya truk dari berbagai kota di Jawa dan Sumatra yang membawa barang. Para sopirnya jika penat dan ingin rehat bisa berhenti sejenak di warem. Mereka sudah pada tahu, selain jualan makanan pokok yang enak-enak, di warem para tamu pun bisa berasyik-masyuk.
Seperti halnya warem di pinggir jalur pantura, tepatnya di kawasan Kp. Tegalandak, Desa Sumurgede, Kec. Cilamaya, Kab. Karawang. Di sana beberapa warem memang aman, sekalipun sering dirazia, tetapi ya seperti peribahasa, patah tumbuh hilang berganti, hari ini dirazia esoknya muncul lagi.
Warem-warem tea bisa aman sebab cenah suka dibekingi para preman. Pokoknya, kalau pengisinya ingin selamat kudu berlindung di balik kesangaran para preman. Termasuk kalau ada tamu yang cul leos atau hanya mau enaknya tanpa mau membayar, preman bekingnyalah yang akan bertindak.
Adalah Car (30), bukan singkatan dari Careuh lo! Pemuda ini memang suka iseng mondok di warem. Biasa ngebooking pengisinya. Suatu malam pekan lalu, Car bersama empat kawannya naik mobil. Ketika lewat di warem kawasan Tegalandak tea, dia berhenti. Biasa mau rehat, mau makan dan selanjutnya ngebooking pelayannya.
Car pede pisan, ia pikir kalau mau ngamar dengan pelayannya bisa langsung check in. Ia belum tahueun di warem yang ini mah harus lewat preman selaku calo sekaligus beking atau bodyguard, tidak boleh selonong boy begitu wae. Nah, begitu masuk dan tertarik pada seorang pelayan, sebut saja Madona, ia langsung adu tawar dan memaksa ngamar.
Madona tea tahu ada pemuda berduit, tak pelit. Sebelum ngamar Car diajak ngobrol dulu, itung-itung warming up. Di saat itulah muncul sang beking pelindung Madona, namanya panggil saja Endul. Kang Endul yang wajahnya sangar, berotot kekar, dan bertato ini rupanya tak enak Madona di-booking tanpa lewat dirinya.
Kang Endul pasang aksi, berkacak pinggang sambil menunjuk-nunjuk Car dan Madona yang katanya tidak menghagainya. Tentu saja Car kaget, ia tak tahu “birokrasi” warem. Ia berusaha melawan dengan adu argumentasi. Tetapi Kang Endul bukannya mengalah, malah semakin marah.
Endul dengan gigi gemeretak lalu mencabut kapak yang telah disiapkannya. Senjata tajam itu diayunkan ke kepala Car. Yang ditebas berkelit, menghindari tebasan, tapi senjata tajam ini menimpa tubuhnya hingga menimbulkan luka berdarah.
Melihat situasi yang tidak memungkinkan, Car membatalkan acara mondok karena keburu dibacok. Ia pun balik kanan, lalu memanggil keempat temannya. Selanjutnya, mereka berlima ngacir. Bagaimana nasib Kang Endul? Belum tahu, apakah sudah ditangkap polisi atau belum. [LigaIndonesia.com]

Older entries »