FENDY ADITIYA

“Dengan Dzikir, Pikir & Amal Sholeh,Ayo Kita Rubah Dunia …

Mengintip Geliat Kehidupan Warung “Remang-Remang”

Mengintip Geliat Kehidupan Warung “Remang-Remang”
Teman Minum Hingga Seks Semalam

Menggeluti kehidupan malam pasti bukan menjadi tujuan semua kaum hawa. Tapi, jika pilihan terbatas, dunia hitam pun dilakoni. Begitulah, kisah pilu perempuan pekerja warung kopi “pangku kelas bawah”. Bila malam menjelang, mereka bermunculan layaknya kelelawar, baik sebagai sekedar teman minum hingga berlanjut ke kamar tidur.

Tidak ada yang tahu pasti, sejak kapan warung remang-remang di sudut Kota Pontianak dengan Kabupaten termuda ini muncul. Warga hanya mengetahui, kawasan tersebut sebagai tempat nongkrong mengasyikkan. Dari hanya sekedar tempat minum kopi panas sampai minuman bergaya ala Texas USA dapat dicicipi. Yang paling mengasyikkan, justru kehadiran perempuan peneman minumnya sebagai teman ngobrol setia menunggu.

Ada perempuan yang hanya memang berprofesi sekedar pelayan ngobrol, adapula terselubung sebagai pengeksploitasi seks. Dan warga pun mahfum keberadaannya, baik yang masih muda belia, maupun perempuan setengah baya. Mereka hadir tidak hanya sekedar menemani lelaki iseng minum hingga ke permainan cinta sekejap oke dijalani.
Geliat kehidupan malam seperti ini dilihat secara sekilas memang tak layak. Akan tetapi justru menjadi buruan pria iseng. Lantaran haus akan pemuasan hasrat seksual, dilayani kencan sekejap pun bisa menjadi surga dunianya pria. Umumnya laki-laki kesepian yang datang ke tempat ini bisa memilih sendiri perempuan yang diajak berkencan.
Usai melakukan transaksi, tanpa basa basi, mereka langsung enjoy sambil mencari tempat menikmati indahnya ‘surga’.
Sebelum pekerjaan dilakukan, biasanya proses transaksi awal terjadi. Di dalam kamar ataupun dibawa keluar, semuanya bisa diatur. Asal fulus ada, apapun bisa dilakukan. Untuk harga yang dipatok bagi sebuah permainan seks relatif sedang. Mulai 50 ribu hingga 300 ribu rupiah dijalani. Kadang bila merasa cocok dengan pelanggan, mereka rela tak menuntut bayaran.
Para perempuan malam ini pula sebetulnya punya segudang alasan kenapa sampai terjun ke dunia malam. Alasan klasik tekanan ekonomi berkepanjangan, paling kentara. Menjadi seorang pekerja seks komersial di kelas bawah memang tak mudah dijalani. Selain dihargai murah, harus memuaskan nafsu pria hidung belang hingga keblinger adalah resiko yang dilakukan. Bahkan, ancaman berbagai penyakit mengerikan, mau tidak mau harus ditepis jauh-jauh.
Melacurkan diri memang gambaran getirnya sebuah kehidupan. Sedangkan pilihan kehidupan lainnya dianggap kurang memenuhi sebuah kebutuhan hidup pada zaman edan dengan sembako tak pernah turun ini. Padahal, melakoni dunia hitam, kenyataannya tak pula bergelimang harta. Sebut saja namanya Lili yang jadi bahan cerita dengan dua momongan saat bersedia jadi bahan investigasi cerita ini.
Perempuan paruh baya berusia 30 tahun ini terjun ke dunia hitam karena suaminya meninggal dunia beberapa tahun silam. Masalah ekonomi, membuatnya harus rela melacur demi menyekolahkan anaknya. Niatan untuk meninggalkan profesi pemuas syahwat, hingga kini belum terpikirkan. Bagi Lili, dengan bekerja sebagai pekerja malam, ia mudah mendapatkan uang jutaan rupiah setiap bulan.
Seperti kebanyakan pekerja malam lain, tawaran menjadi pekerja seks berasal dari seorang temannya. Meski awalnya menolak, Lili akhirnya ikhlas menceburkan diri dalam dunia kelam. Keluarga maupun anaknya sama sekali tak mengetahui jenis pekerjaan yang ditekuninya. Untuk mengaburkannya, bersama beberapa teman, dia mengakui kepada pihak keluarga bekerja sebagai pelayan ataupun di salon kecantikan.
Meski sering terbersit kekhawatiran atas penularan penyakit berbahaya, Lili dan perempuan malam lain, tetap menjalani kehidupan malamnya dengan menggelayut mesra kepada pria-pria “pemetik”. Meski nurani kadang memberontak karena kerap dianggap sumber masalah, justru para konsumennya bertambah. Walau tak jarang, mereka terancam oleh razia-razia yang sering diadakan oleh aparat keamanan.
Namun, keberadaan perempuan malam tak mungkin punah, apabila realitanya, penikmat seks bebas memburu dengan imbalan rupiah. Sering waktu bergulir, bahkan tak menyurutkan jumlah “perempuan” menangguk rupiah dari kehidupan malam ini. Justru, perempuan malam kian tersamarkan akan keberadaan warung remang-remang. Terlebih, makin banyak pula lelaki iseng yang terhibur akan kehadiran “tarian tubuh penghangat” mereka.
Bisnis seks terselubung seperti ini justru menjamur. Para hidung belang juga dapat terpuaskan. Perempuan belia ataupun ABG yang menjadi teman minum atau bahkan diajak lebih jauh buat menyalurkan hasrat adalah objeknya. Sekilas, para ABG penjaja minuman ringan dengan suplemen kepada lelaki yang melintas kerap disebut gadis peneman minum. Namun, ada yang menyebut mereka, gadis penjaja cinta. Terlebih, minuman yang ditawarkan, harganya melambung hingga mencapai dua sampai empat kali lipat.
Cerita dan obrolan miring akan gadis peneman minum terus berkembang, meski banyak disangkal para pelakunya. Dalih lain datang dari bos yang merekrut ABG ini. Para ABG dianggap karyawan yang setiap bulan mendapat gaji sebesar Rp 1 – 3 juta, tergantung dari keberhasilan pencapaian target penjualan minuman. Gadis ABG, lebih elit dibanding perempuan setengah baya. ABG kebanyakan mau berkencan, bila diajak ke hotel dengan tarif di atas Rp 100 ribu. Biasanya, itu dilakukan bila tamu sudah menjadi pelanggan tetap, atau mengeluarkan uang dalam jumlah banyak.
Keberadaan pekerja seks komersial, di sisi lain mengundang cemoohan ataupun protes. Mereka dicap sebagai perusak moral. Sehingga, upaya memberantasnya, terus dilakukan aparat, meski tak semuanya bisa terjaring. Kesulitan dari memberantas keberadaan perempuan malam, tak lain karena banyak pria iseng yang justru menikmati keberadaannya. Selain itu, oknum pun diduga bermain. Banyak oknum yang justru mengutip uang bulanan dari para perempuan malam. Betapa ironis, ternyata, lebih sulit membasmi yang tampaknya baik, tetapi justru tak bermoral.

Birokrasi warung remang-remang

Sudah rahasia umum, warung remang-remang (warem) yang bertebaran di pinggir jalan, khususnya di pantai utara (pantura) dianggap tempat mesum. Pemiliknya seakan tahu, waremnya tidak akan laku jika tidak diisi wanita centil dan menor sebagai pelayannya.
Wanita-wanita pelayan warem ini memangtrengginas“. Tidak hanya piawai menyuguhkan kopi atau nasi kepada tamu yang berkunjung, tetapi juga siap menyervis luar dalam. Tak usah pergi ke hotel, cukup menyelinap ke belakang warem, di sana sudah ada kamar, begitu cenah kata pelanggan warem.
Di pantura tea banyak hilir mudik kendaraan, khususnya truk dari berbagai kota di Jawa dan Sumatra yang membawa barang. Para sopirnya jika penat dan ingin rehat bisa berhenti sejenak di warem. Mereka sudah pada tahu, selain jualan makanan pokok yang enak-enak, di warem para tamu pun bisa berasyik-masyuk.
Seperti halnya warem di pinggir jalur pantura, tepatnya di kawasan Kp. Tegalandak, Desa Sumurgede, Kec. Cilamaya, Kab. Karawang. Di sana beberapa warem memang aman, sekalipun sering dirazia, tetapi ya seperti peribahasa, patah tumbuh hilang berganti, hari ini dirazia esoknya muncul lagi.
Warem-warem tea bisa aman sebab cenah suka dibekingi para preman. Pokoknya, kalau pengisinya ingin selamat kudu berlindung di balik kesangaran para preman. Termasuk kalau ada tamu yang cul leos atau hanya mau enaknya tanpa mau membayar, preman bekingnyalah yang akan bertindak.
Adalah Car (30), bukan singkatan dari Careuh lo! Pemuda ini memang suka iseng mondok di warem. Biasa ngebooking pengisinya. Suatu malam pekan lalu, Car bersama empat kawannya naik mobil. Ketika lewat di warem kawasan Tegalandak tea, dia berhenti. Biasa mau rehat, mau makan dan selanjutnya ngebooking pelayannya.
Car pede pisan, ia pikir kalau mau ngamar dengan pelayannya bisa langsung check in. Ia belum tahueun di warem yang ini mah harus lewat preman selaku calo sekaligus beking atau bodyguard, tidak boleh selonong boy begitu wae. Nah, begitu masuk dan tertarik pada seorang pelayan, sebut saja Madona, ia langsung adu tawar dan memaksa ngamar.
Madona tea tahu ada pemuda berduit, tak pelit. Sebelum ngamar Car diajak ngobrol dulu, itung-itung warming up. Di saat itulah muncul sang beking pelindung Madona, namanya panggil saja Endul. Kang Endul yang wajahnya sangar, berotot kekar, dan bertato ini rupanya tak enak Madona di-booking tanpa lewat dirinya.
Kang Endul pasang aksi, berkacak pinggang sambil menunjuk-nunjuk Car dan Madona yang katanya tidak menghagainya. Tentu saja Car kaget, ia tak tahu “birokrasi” warem. Ia berusaha melawan dengan adu argumentasi. Tetapi Kang Endul bukannya mengalah, malah semakin marah.
Endul dengan gigi gemeretak lalu mencabut kapak yang telah disiapkannya. Senjata tajam itu diayunkan ke kepala Car. Yang ditebas berkelit, menghindari tebasan, tapi senjata tajam ini menimpa tubuhnya hingga menimbulkan luka berdarah.
Melihat situasi yang tidak memungkinkan, Car membatalkan acara mondok karena keburu dibacok. Ia pun balik kanan, lalu memanggil keempat temannya. Selanjutnya, mereka berlima ngacir. Bagaimana nasib Kang Endul? Belum tahu, apakah sudah ditangkap polisi atau belum. [LigaIndonesia.com]

1 Komentar »

  Suhaemi wrote @

Ayo mulai kita berupaya melakukan pendekatan dan perhatian kepada para psk karena sebenarnya mereka bukan terbelit masalah ekonomi tapi pada persoalan kebiasaan. Lingkaran yang mengikat merekapun terlalu kuat. Para pemuka agama segeralah turun untuk memberikan nasihat yang mereka butuhkan. Sesungguhnya mereka berjalan sendiri tanpa ada yang memperhatikan.


Komentar Anda

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>